Warga Ambat Jaya Curigai Pengukuran PT SI Tak Independen, Debu Blasting PT Saipem Disebut “Lagu Lama”
Table of Contents
Karimun| Karimunnews.id — Warga Kampung Ambat Jaya, Desa Pangke Barat, Kecamatan Meral Barat, Kabupaten Karimun, kembali meluapkan kekecewaan terhadap aktivitas PT Saipem yang dinilai telah bertahun-tahun menimbulkan dampak lingkungan berupa debu blasting, kebisingan, serta bau menyengat dari aktivitas pengecatan.
Kecurigaan warga menguat setelah hasil pengukuran kualitas udara yang dilakukan PT Surveyor Indonesia (PT SI) kembali menyatakan kondisi lingkungan masih berada di bawah ambang batas. Warga menilai hasil tersebut tidak independen dan cenderung berpihak kepada PT Saipem.
Hal itu terungkap dalam pertemuan antara tokoh masyarakat Ambat Jaya, Kepala Desa Pangke Barat, dan sejumlah awak media yang digelar di kantor desa, Senin (19/1/2026).
Tokoh warga Ambat Jaya yang hadir, yakni Sahar, Muslim, Sukur, dan Ajis, secara tegas mempertanyakan kredibilitas hasil pengukuran tersebut. Mereka menyebut laporan PT SI sebagai “lagu lama” yang terus diulang setiap kali keluhan warga mencuat.
“Dari dulu hasilnya selalu sama, di bawah ambang batas. Ini lagu lama. PT SI itu subcon PT Saipem, mana mungkin berani memojokkan maincon-nya sendiri,” ujar salah satu tokoh warga dengan nada protes.
Warga juga menyoroti waktu pelaksanaan pengukuran yang dinilai tidak merepresentasikan kondisi riil di lapangan.
“Pengukuran tidak dilakukan saat blasting berlangsung dan debu masuk ke pemukiman. Jadi hasilnya jelas tidak menggambarkan apa yang kami rasakan setiap hari,” tambah warga lainnya.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Desa Pangke Barat, Heraidil, membenarkan bahwa PT Saipem secara rutin melakukan pengukuran kualitas udara setiap enam bulan sekali melalui PT Surveyor Indonesia sebagai pihak ketiga.
“Hasil pengukuran itu dilaporkan ke Dinas Lingkungan Hidup, ke PT Saipem, dan juga ditembuskan ke kantor desa. Secara administratif dinyatakan masih di bawah ambang batas,” jelas Heraidil.
Meski demikian, Heraidil mengakui adanya keresahan warga yang tidak bisa diabaikan. Ia berjanji akan kembali memanggil pihak PT Saipem untuk duduk bersama warga guna mencari solusi.
“Keluhan warga ini sudah lama dan sekarang menjadi perhatian publik. Dalam waktu dekat kami akan mencoba memfasilitasi pertemuan lanjutan dengan PT Saipem,” katanya.
Warga Ambat Jaya mendesak agar pertemuan tersebut tidak sekadar formalitas, melainkan benar-benar menghasilkan solusi konkret yang berkeadilan. Mereka bahkan meminta kepala desa dan pihak terkait turun langsung ke lapangan saat aktivitas blasting berlangsung agar melihat langsung kondisi yang dialami warga.
“Kami siap panggil Pak Kades turun ke lokasi kalau debu blasting kembali masuk ke rumah-rumah warga. Supaya semua pihak melihat kondisi sebenarnya,” tegas warga.
Hingga berita ini diterbitkan, Karimunnews.id masih berupaya menghubungi pihak PT Saipem, PT Surveyor Indonesia, serta instansi terkait untuk memperoleh konfirmasi dan klarifikasi guna pemberitaan yang berimbang.
---
(Samsul).
Posting Komentar